Total Tayangan Laman

Selasa, 17 April 2012

Observasi


LAPORAN PENELITIAN
SD Kutowinangun 01
Jl Candisari No 01 Kelurahan Kutowinangun
Kecamatan Tingkir Kota Salatiga
Disusun Sebagai Tugas Akhir Mata Kuliah Strategi Pembelajaran JG 220
Dosen Pengampu : Stefanus C Relmasira


Disusun Oleh :
1.      Suharlim                    292010064
2.      Riana Nugraeni         292010067
3.      Aulia Rizqika R         292010068
4.      Duta Dwi Sejati         292010076
5.      Dewi Setianingsih      292010082
6.      Noviasih                     292010089

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2012
Strategi Guru Mengajar dalam Pendidikan Berbasis Inquiry
Untuk memenuhi tugas akhir Mata Kuliah Strategi Pembelajaran ini, kelompok kami mengambil sample di SD Kutowinangun 01 yang beralamat di Jl Candisari 01 Kecamatan Tingkir Kota Salatiga. Kami memilih untuk mengamati proses pembelajaran yang terjadi di kelas 5, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan materi Proses Pembentukan Tanah.
Kami mengamati proses pembelajaran yang terjadi selama 2 jam pelajaran (2x 35 menit). Pada saat pembelajaran berlangsung, kami merekam semua kegiatan pembelajaran dari awal sampai akhir.
Pada saat pembelajaran, pertama-tama guru mengulang kembali materi yang disampaikan pada pertemuan sebelumnya mengenai batuan. Mulai dari guru memberi pertanyaan tentang jenis-jenis batuan. Guru menanyakan macam-macam batuan, jenis-jenis pelapukan, perbedaan pelapukan fisika, pelapukan biologi, dan pelapukan kimia, dan siswa menjawab dengan baik pertanyaan guru.
Kemudian guru menjelaskan materi yang akan dipelajari hari ini, yaitu mengidentifikasi jenis-jenis tanah. Dalam pertemuan sebelumnya siswa diberi tugas untuk membawa macam-macam tanah. Alat dan bahan yang digunakan untuk mengidentifikasi tanah, seperti : tanah berpasir, tanah liat, tanah humus, tanah lempung, air, dan 4 buah mangkuk atau botol aqua bekas. Siswa diminta untuk berkelompok secara homogen, kelompok perempuan sendiri dan kelompok laki-laki sendiri. Satu kelompok terdiri atas 4-6 orang. Di dalam kelompok siswa mendiskusikan ciri-ciri yang ditemukan siswa secara mandiri dalam percobaan mengidentifikasi ciri-ciri tanah.
Saat guru memberi tugas untuk berkelompok siswa langsung memberi respon untuk bergabung dengan kelompoknya dengan aktif. Siswa dapat bekerjasama dengan teman sekelompoknya. Mereka berbagi tugas secara adil. Masing-masing anak terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. Mereka mengaduk-aduk tanah dan memasukkannya ke dalam mangkuk yang telah disiapkan dari rumah dengan tangan mereka sendiri, sehingga mereka bisa merasakan tekstur dari masing-masing tanah yang telah dibawa.
Tanah pasir teksturnya berupa butiran-butiran kecil yang kasar bila diraba. Tanah humus berwarna hitam karena mengandung unsur hara yang berasal dari tumbuhan yang membusuk. Tanah liat berwarna coklat dan teksturnya halus. Tanah lempung berwarna coklat kekuningan dan mempunyai sifat yang sama dengan tanah liat. Tanah berkapur tidak dimasukkan dalam percobaan karena di daerah Kutowinangun tidak ada tanah yang berkapur. Disini guru mengambil percobaan yang ada hubungannya dengan kehidupan siswa sehari-hari.
Setelah mengamati tekstur tanah yang masih kering (belum diberi air), mereka menuliskan hasil pengamatannya dalam selembar kertas atau buku yang sudah disiapkan oleh siswa sendiri. Kemudian siswa mencampurkan tanah dengan air. Mereka mengamati apa yang terjadi pada tanah tersebut. Masing-masing tanah mempunyai sifat dan ciri yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.
Tanah pasir jika diberi air, maka akan cepat meresap air. Tanah humus jika di beri air, juga cepat meresap air. Lain halnya dengan tanah lempung dan tanah liat. Kedua jenis tanah ini sulit dilalui air. Tetapi apabila tanah ini basah, maka sifatnya sangat elastis dan mudah dibentuk.
Dalam proses pembelajaran, peran guru juga sangat terlihat. Guru sebagai fasilitator dan motivator. Saat siswa bekerja dalam kelompok, guru membimbing siswa untuk melakukan kegiatan percobaan dengan benar.  Ada kelompok yang dalam memberikan air ke dalam tanah itu kurang banyak sehingga sulit untuk mengidentifikasi ciri tanah tersebut (tanah pasir). Guru dengan sabar membimbing siswa untuk memberikan tambahan air agar tanah dapat diidentifikasi cirinya. Guru dalam memfasilitasi siswa, dengan memberikan pengarahan dalam pengamatan. Dalam proses pengamatan itu guru mengamati cara kerja siswa, diam-diam guru melakukan penilaian afektif dan psikomotor. Hasil pengamatan dan percobaan siswa ditulis pada selembar kertas. Guru memberi sedikit waktu kepada siswa untuk menyelesaikan laporan pengamatan dan kemudian dikumpulkan pada guru.
Dalam kegiatan akhir guru memberikan evaluasi berupa soal uraian sebanyak 5 soal. Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dan untuk mengetahui tingkat keberhasilan mengajar guru, serta mengetahui ketercapaian kompetensi dasar yang diajarkan. Kelima soal tersebut berisi tentang pembelajaran yang telah disampaikan oleh guru dan percobaan yang dilakukan oleh siswa.
Mengkritisi Model Pembelajaran dan Strategi yang dilakukan oleh guru
Saat proses pembelajaran guru menggunakan model group investigation. Dalam model pembelajaran ini guru membentuk siswa menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri 5-6 siswa. Model pembelajaran group investigation juga memiliki kekurangan dan kelebihan dalam proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
Kelebihan-kelebihan dalam model pembelajaran group investigation yaitu:
·         Melatih peserta didik untuk mendesain suatu penemuan
·         Melatih berpikir dan bertindak kreatif
·         Dapat memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
·         Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan
·         Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan
·         Merangsang perkembangan kemajuan berpikir peserta didik untuk menghadap masalah yang dihadapi secara tepat[1]
Selain kelebihan yang dipaparkan tersebut, pembelajaran group investigation ini juga memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan-kekurangan tersebut yaitu :
·         Membutuhkan keaktifan anggota kelompok dalam melakukan penyelidikan atau investigasi. Jika seluruh anggota kelompok pasif, maka akan menyulitkan mereka dalam melakukan kegiatan investigasi.
Beberapa ciri esensial investigasi kelompok sebagai model pembelajaran :
·         Peserta didik bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil dan memiliki independensi ( mengakui keahlian profesional ) terhadap guru.
·         Kegiatan-kegiatan peserta didik terfokus pada upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dirumuskan.
·         Kegiatan belajar peserta didik akan selalu mempersyaratkan mereka untuk mengumpulkan sejumlah data, menganalisisnya, dan mencapai beberapa kesimpulan.
·         Hasil-hasil dari penelitian peserta didik dipertukarkan di antara seluruh peserta didik[2].
Adapun prinsip-prinsip dalam pembelajaran group investigation, antara lain:
·         Menguasai kemampuan kelompok. Kesuksesan implementasi dari group investigation sebelumnya menuntut pelatihan dalam kemampuan komunikasi dan sosial.
·         Perencanaan kooperatif. Anggota kelompok mengambil bagian daam merencanakan berbagai dimensi dan tuntutan dari proyek mereka. Bersama mereka menentukan apa yang mereka ingin investigasikan sehubungan dengan upaya mereka menyelesaikan masalah yang mereka hadapi, sumber apa yang mereka butuhkan, siapa melakukan apa, dan bagaimana mereka akan menampilkan proyek mereka yang sudah selesai di hadapan kelas.
·         Peran guru. Di dalam kelas yang melaksanakan proyek group investigation, guru bertindak sebagai narasumber dan fasilitator. Guru tersebut berkeliling di antara kelompok¬kelompok yang ada, untuk melihat bahwa mereka bisa mengelola tugasnya, dan membantu tiap kesulitan yang mereka hadapi dalam interaksi kelompok, termasuk masalah dalam kinerja terhadap tugas-tugas khusus yang berkaitan dengan proyek pembelajaran[3].
Setelah kita mengamati proses pembelajaran dari awal hingga akhir sudah sesuai dengan ciri-ciri esensial model pembeajaran group investigation. Siswa mampu bekerjasama dengan kelompok, siswa (berkelompok) mampu mengidentifikasi ciri-ciri tanah secara mandiri.
Kekurangan dari pembelajaran yang dilakukan saat itu adalah tidak ada buku yang keluar atau tidak menggunakan buku paket panduan dalam proses pembelajaran. Dalam kegiatan awal, siswa hanya mendengarkan penjelasan guru dan akan bereaksi ketika guru memberikan pertanyaan. Padahal siswa adalah individu yang berbeda dan tidak semua siswa itu cara belajarnya adalah audio (mendengarkan).
Tetapi saat diskusi kelompok, siswa secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Siswa mau bekerjasama dengan temannya untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Proses pembelajaran dengan model group investigation sangat tampak pada saat siswa mengamati dan memegang tanah dengan tangan sendiri. Siswa bisa mencari ciri dari masing-masing tanah yang diamati dan merasakan teksturnya.















KESIMPULAN
Dari penelitian yang kami lakukan di SD Kutowinangun 01, dapat diperoleh kesimpulan bahwa strategi yang digunakan guru dalam mengajar, sangat mempengaruhi pada aktivitas belajar mengajar di kelas. Sebelum guru melakukan kegiatan mengajar, maka guru harus mempersiapkan materi yang akan diajarkan kepada siswa secara matang agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan lancar.
Menurut kelompok kami, pembelajaran yang dilakukan guru sudah cukup bagus karena dalam kegiatan inti, guru berusaha menggali kemampuan siswa untuk memecahkan masalah sendiri tapi dengan bimbingan dari guru. Jadi siswa bisa terlibat langsung dan membuktikan ciri dari masing-masing tanah melalui kegiatan pengamatan berkelompok. Siswa tidak hanya mengandalkan guru untuk memberitahu apa yang belum diketahui (guru sebagai sumber belajar) tetapi siswa berusaha menemukan tekstur dari masing-masing tanah setelah memegang tanah dengan tangannya sendiri. Disini pembelajaran tidak hanya menggunakan indera penglihatan dan indera pendengaran, indera peraba/ kulit juga berperan dalam menentukan tekstur tanah.
Meskipun begitu guru tetap membimbing setiap kelompok dalam melakukan kegiatan tersebut. Guru meluruskan kesalahan siswa saat melakukan percobaan, sehingga meskipun siswa melakukan percobaan secara mandiri guru tetap berperan sebagai fasilitator. Guru mencoba memberikan pengalaman secara langsung kepada siswa untuk menemukan ciri-ciri jenis tanah. Hal ini merupakan cara guru untuk memberikan pendidikan kecakapan untuk hidup yaitu environmental skills education.
Environmental skills education adalah pendidikan kecakapan yang perlu diberikan kepada anak didik agar dapat mengembangkan kemampuan berdialog secara baik dengan lingkungan alam sekitarnya. Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran tersebut siswa juga mendapat pendidikan kecakapan untuk bermasyarakat (social skills) yaitu kecakapan untuk menguasai cara berhubungan dan cara berdialog dengan orang lain. Hal ini ditunjukkan dengan diskusi kelompok yang melatih siswa dalam menyampaikan pendapat dan menghargai pendapat orang lain.















Daftar Pustaka :
-          Buku Ajar Strategi Pembelajaran JG220 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
-          Haryanto.2004.Sains untuk Sekolah Dasar Kelas V.Jakarta:Erlangga.



[1] Amin Suyitno, Pemilihan Model-Model Pembelajran dan Penerapannya di SMP, (Semarang: UNNES, 2006), hlm. 2.
[2] Trianto Amin Suyitno, Pemilihan Model-Model Pembelajran dan Penerapannya di SMP, (Semarang: UNNES, 2006), hlm. 2.

[3] Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Alfabeta, 2009), hlm. 153.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar