Total Tayangan Laman

Jumat, 03 Februari 2012

STRATEGI PEMBELAJARAN JG220C NOVIASIH 292010089


BELAJAR DAN MENGAJAR

*        BELAJAR
A.  PENGERTIAN
Secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai berikut :
“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar sebagai berikut :
§             Perubahan terjadi secara sadar
§             Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional
§             Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
§             Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
§             Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
§             Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku

B.     JENIS-JENIS BELAJAR
·                Belajar bagian (part learning, fractioned learning)
·                Belajar dengan wawasan (learning by insight)
·                Belajar diskriminatif (discriminatif learning)
·                Belajar global/keseluruhan (global whole learning)
·                Belajar insidental (incidental learning)
·                Belajar instrumental (instrumental learning)
·                Belajar intensional (intentional learning)
·                Belajar laten (latent learning)
·                Belajar mental (mental learning)
·                Belajar produktif (productive learning)
·                Belajar verbal (verbal learning)

C.    TEORI BELAJAR
Ada berbagai macam teori belajar, seperti teori belajar yang mendasarkan pada ilmu jiwa daya, tanggapan, asosiasi, trial & error, Medan, Gestalt, Behaviorist dan masih bannyak lagi yang lainnya. Namun yang akan dibahas hanya teori-teori belajar yang relevan dengan kebutuhan kita, seperti :
1.         Teori Gestalt (Koffka dan Kohler dari Jerman)
Hukum dalam pengamatan sama dengan hukum dalam belajar, yaitu :
a)        Gestalt mempunyai sesuatu yang melebihi jumlah unsur-unsurnya.
b)        Gestalt timbul lebih dahulu daripada bagian-bagiannya.
Sehingga hal-hal penting dalam belajar adalah adanya pennyesuaian pertama yaitu memperoleh response yang tepat untuk memecahkan problem yang dihadapi. Dalam belajar jangan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh insight. Sifat-sifat belajar dengan insight adalah :
·           Insight tergantung dari kemampuan dasar
·           Insight tergantung dari pengalaman masa lampau yang relevan
·           Insight hanya timbul apabila situasi belajar diatur sedemikian rupa, sehingga segala aspek yang perlu dapat diamati
·           Insight adalah hal yang harus dicari, tidak dapat dicari, tidak dapat jatuh dari langit
·           Belajar dengan insigt dapat diulangi
·           Insight sekali didapat dapat digunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang baru
Prinsip belajar menurut teori Gestalt :
v  Belajar berdasarkan keseluruhan
Orang berusaha menghubungkan suatu pelajaran dengan pelajaran yang lain sebanyak mungkin. Mata pelajaran yang masih utuh akan lebih mudah dimengerti daripada bagian-bagiannya.
v  Belajar adalah suatu proses perkembangan
Apabila anak sudah matang untuk menerima bahan pelajaran, maka ia baru dapat mempelajari dan merencanakannya. Kesediaan memepelajari sesuatu tidak hanya ditentukan oleh kematangan jiwa batiniah, tetapi juga perkembangan karena lingkungan dan pengalaman.
v  Siswa sebagai organisme keseluruhan
Bukan hanya intelektualnya saja yang dipelajari oleh siswa, namun emosional dan jasmaninya juga. Dalam sistem mengajar modern saat ini guru tidak hanya mengajar, tapi juga mendidik siswa untuk membentuk pribadi siswa.
v  Terjadi transfer
Belajar pada pokoknya yang terpenting pada penyesuaian pertama ialah memperoleh response yang tepat. Mudah atau sukarnya problem itu terutama adalah masalah pengamatan, bila dalam suatu kemampuan telah dikuasai betul-betul maka dapat dipindahkan untuk kemampuan yang lain.
v  Belajar adalah reorganisasi pengalaman
Pengalaman adalah suatu interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Belajar itu baru akan timbul bila seseorang menemui suatu situasi/soal baru. Saat menghadapi hal seperti itu ia akan menggunakan segala pengalaman yang telah dimiliki dan mengadakan analisis reorganisasi atas pengalamannya.
v  Belajar harus dengan insight
Insight adalah suatu saat dalam proses belajar dimana seseorang melihat pengertian tentang sangkut-paut dab hubungan-hubungan tertentu dalan unsur yang mengandunga suatu problem.
v  Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan dan tujuan siswa.
Itu dapat terjadi bila banyak berhubungan dengan apa yang diperlukan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah progresif, siswa diajak membicarakan tentang proyek/unit agar tahu tujuan yang akan dicapai dan yakin akan manfaatnya.
v  Belajar berlangsung terus-menerus
Siswa memperoleh pengetahuan tak hanya di sekolah tetapi jiga di luar sekolah, dalam pergaulan; memperoleh pengalaman sendiri-sendiri, karena itu sekolah harus bekerja sama dengan orang tua di rumah dan masyarakat, agar semua turut serta membantu perkembangan siswa secara harmonis.

2.        Teori Belajar Menurut J. Bruner
Menurut Bruner belajar bukan untuk mengubah tingkah laku seseorang tetapi untuk mengubah kurikulum sekolah menjadi sedemikian rupa sehingga siswa dapat lebih banyak dan mudah. Bruner berpendapat alangkah baiknya bila sekolah dapat menyediakan kesempatan bagi siswa untuk maju dengan cepat sesuai dengan kemampuan siswa dalam mata pelajaran tertentu. Di dalam proses belajar Bruner mementingkan partisipasi aktif dari para siswa dalam mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk meningkatkan proses belajar perlu lingkungan yang dinamakan “discovery learning environment”, adalah lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi, penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui. Dalam tiap lingkungan selalu ada bernacam-macam masalah-masalah, hubungan-hubungan dan hambatan yang dihayati oleh siswa secara berbeda-beda pada usia yang berbeda pula. Dalam lingkungan banyak hal yang baru dipelajari siswa, hal mana dapat digolongkan menjadi :
a)         Enactive   : seperti belajar naik sepeda, yang harus didahului dengan bermacam-macam keterampilan motorik.
b)        Iconic       : seperti mengenal jalan yang menuju ke pasar, mengingat dimana bukunya yang penting dilakukan.
c)         Symbolic  : seperti menggunakan kata-kata, menggunakan formula.
Dalam belajar guru perlu memperhatikan 4 hal berikut ini :
1)        Mengusahakan agar setiap siswa dapat berpartisipasi aktif, minatnya perlu ditingkatkan, kemudian perlu diimbangi untuk mencapai tujuan tertentu.
2)        Menganalisis struktur materi yang akan diajarkan dan juga perlu disajikan secara sederhana sehingga mudah dimengerti oleh siswa.
3)        Menganalisis sequence. Guru mengajar, berarti membimbing siswa melalui urutan pertanyaan-pertanyaan dari suatu masalah, sehingga siswa memperoleh pengertian dan dapat mentransfer apa yang sedang dipelajari.
4)        Memberi reiforcement dan umpan balik (feed-back). Penguatan yang optimal terjadi pada waktu siswa mengetahui bahwa ia menemukan jawabnya.

3.        Teori Belajar dari Piaget
Pendapat Piaget mengenai perkembangan proses belajar pada anak-anak adalah :
1)             Anak mempunyai struktur mental yang berbeda dengan orang dewasa. Mereka mempunyai cara yang khas untuk menyatakan kenyataan dan untuk mengkhayati dunia sekitarnya, maka memerlukan pelayanan tersendiri dalam belajar.
2)             Perkembangan mental pada anak melalui tahap-tahap tertentu, menurut suatu urutan yang sama bagi semua anak.
3)             Walaupun berlangsungnya tahap-tahap perkembangan itu melalui suatu urutan tertentu, tetapi jangka waktu untuk berlatih dari satu tahap ke tahap yang lain tidaklah selalu sama pada setiap anak.
4)             Perkembangan mental anak dipengarui oleh 4 faktor, yaitu :
a.    Kemasakan
b.    Pengalaman
c.    Interaksi sosial
d.   Equilibration (proses dari ketiga faktor di atas bersama-sama untuk membangun dan memperbaiki struktur mental)
5)             Ada 3 tahap perkembangan, yaitu :
a.    Berpikir secara intuitif  tahun
b.    Beroperasi secara konkret  tahun
c.    Beroperasi secara formal  tahun

4.         Teori dari R. Gagne
Terhadap masalah belajar, Gagne memberikan dua definisi, yaitu :
1.        Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku.
2.        Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.
Pada masa bayi manusia mengadakan interaksi dengan lingkungan dalam bentuk “sensori-motor coordination”, kemudian mulai belajar berbicara dan menggunakan bahasa. Kesanggupan dalam penggunaan bahasa sangat penting artinya untuk belajar.
Tugas pertama yang dilakukan anak adalah meneruskan “sosialisasi” dengan anak lain satau orang dewasa tanpa pertentangan bahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan keramahan dan konsiderasi pada anak ini.
Pada tahap kedua adalah belajar menggunakan simbol-simbol yang menyatakan keadaan sekelilingnya, seperti : gambar, huruf, angka, diagram dan sebagainya. Ini adalah tugas intelektual (membaca, menulis, berhitung dan sebagainya).
Gagne mengatakan bahwa segala sesuatu yang dipelajari oleh manusia dapat dibagi menjadi 5 kategori, yang disebut “The domains of learning” yaitu :
a)             Keterampilan motoris (motor skill)
Dalam hal ini perlu koordinasi dari berbagai gerakan badan. Misalnnya melempar bola, main tenis, mengemudi mobil, mengetik huruf R.M dan sebagainya.
b)             Informasi verbal
Orang dapat menjelaskan sesuatu dengan berbicara, menulis, menggambar; dalam hal ini dapat dimengerti bahwa untuk mengatakan sesuatu ini perlu inteligensi.
c)             Kemampuan intelektual
Manusia mengadakan interaksi dengan dunia luar dengan menggunakan simbol-simbol. Misalnya membedakan huruf m dan n, menyebutkan tanaman yang sejenis.
d)            Strategi kognitif
Merupakan organisasi keterampilan yang internal (internal organized skill) yang perlu untuk belajar mengingat dan berpikir. Kemampuan ini berbeda dengan kemampuan intelektual, karena ditunjukkan ke dunia luar dan tidak dapat dipelajari hanya dengan berbuat satu kali serta memerlukan perbaikan-perbaikan secara terus-menerus.
e)             Sikap
Kemampuan ini tidak dapat dipelajari dengan berulang-ulangan, tidak tergantung atau dipengaruhi oleh hubungan verbal seperti halnya domain yang lain. Sikap ini penting dalam proses belajar, tanpa kemampuan ini belajar tidak akan berhasil dengan baik.

5.         Purposeful Learning
          Purposeful Learning adalah belajar yang dilakukan dengan sadar untuk mencapai tujuan yang :
v   Dilakukan siswa sendiri tanpa perintah atau bimbingan orang lain (Purposeful Learning oleh siswa sendiri).
Urutan purposeful learning tanpa bimbingan :
a.    Memperhatikan situasi belajar
b.   Menetapkan tujuan, mengarahkan perhatian dan kegiatan kepada pencapaian tujuan
c.    Mengadakan usaha-usaha pendahuluan yang mencakup berpikir dalam hubungan dengan tugas-tugas di dalam bidang kognitif, psikomotor, dan afektif.
d.   Latihan untuk memperoleh kecakapan dan untuk mencapai tujuan.
e.    Mengevaluasi tingkah laku sendiri.
f.      Mencapai tujuan              atau            Tidak mencapai tujuan
g.    Menggunakan pengetahuan dan kecakapan yang lebih tinggi tingkatnya (daripada sebelum belajar) di dalam situasi lain
Mengalami kepuasan Mengubah tujuan, mengubah respons, atau mengundurkan diri.


   Penjelasan tiap tahap :
a.         Seseorang mengalami/menyadari kebutuhan, keinginan atau perasaan tertentu dan memperhatikan situasi tersebut.
b.        Sambil memperhatikan situasi tersebut dan mempertimbangkan motivasi, seseorang melihat/memikirkan bagaimana kebutuhannya dapat dipenuhi dan menetapkan tujuan.
c.         Sambil memperhatikan situasi tersebut seseorang mengadakan aksplorasi, sebagai persiapan untuk menetapkan tujuan. Setelah tujuan ditetapkan, kemauan atau keinginan untuk mencapainya membentuk daya pendorong. Tujuan tersebut terletak dalam berbagai bidang kecakapan yaitu kognitif, psikomotor atau afektif.
d.        Percobaan pendahuluan tersebut dapat mengakibatkan perumusan kembali tujuan (mempertinggi atau memperendah tujuan). Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan latihan/kegiatan-kegiatan.
e.         Individu menilai kegiatannya.
Penilaian dimulai sejak tahap permulaan, tapi pada tahap ke-5 ini penilaian dilakukan untuk mengetahui tujuan yang telah tercapai.
f.         Tujuan tercapai menimbulkan kepuasan.
Tujuan tak tercapai mengakibatkan mengubah tujuan.

v   Dilakukan siswa dengan bimbingan orang lain di dalam situasi belajar-mengajar di sekolah (Belajar-bertujuan di dalam situasi sekolah).
Tingkat-tingkat belajar-bertujuan dengan bimbingan :
Aktivitas Siswa
Aktivitas Guru
a.       Memperhatikan situasi belajar.
a.       Memanipulasi materi, kegiatan dan unsur-unsur, aspek-aspek yang lain dalam situasi untuk menjamin dan menguasai perhatian siswa.
b.      Menetapkan tujuan mengarahkan perhatian dan kegiatan kepada tercapainya tujuan.
b.      Membantu siswa dalam menetapkan tujuan dengan jalan mendiskusikan tujuan pengajaran, tugas-tugas yang harus dikerjakan, dan sebagainya.
c.       Mengadakan percobaan (usaha) dalam bidang : kognitif, psikomotor dan afektif.
c.       Menyediakan sumber-sumber pengajaran, misalnya : bahan-bahan dan perlengkapan dan memberikan bimbingan kepada siswa untuk menggunakan sumber tersebut.
d.      Latihan/praktek untuk memperoleh kecakapan dan untuk mencapai tujuan.
d.      Mengatur latihan, studi, diskusi, laboratorium dan kegiatan-kegiatan lain. Memberi semangat kepada siswa agar tekun dalam usaha mencapai tujuan.
Memberi bimbingan kepada siswa dalam memeperoleh pengetahuan dan dalam mengembangkan kecakapan yang lebih tinggi tingkatnya dan tingkah laku pro-sosial dan memperhatikan perbedaan individu siswa.
e.       Menilai tingkah laku sendiri.
e.       Menilai kemajuan siswa, membetulkan kesalahan-kesalahan, memperkuat apa yang telah baik (reinforce), misalnya dengan memuji, memberikan persetujuan. Dan
Memberi kesempatan untuk mengadakan review dan latihan-latihan tambahan dimana perlu.
f.       Mencapai tujuan.
f.       Mengadakan evaluasi sumatif untuk memperoleh pengetahuan tentang seberapa jauh tujuan telah tercapai.
g.      Memperoleh kepuasan.
g.      Menciptakan kondisi yang memunngkinkan penggunaan pengetahuan, keterampilan dan kecakapan sekarang dalam kegiatan-kegiatan lain, dan dalam situasi di luar sekolah.

Penjelasan tiap langkah :
a.    Memperhatikan tugas yang akan dipelajari adalah penting dalam memulai tahap (urutan) kegiatan belajar. Pada waktu mengintroduksi pelajaran (atau unit), guru menarik perjatian siswa. Guru menuntut siswa menggunakan lebih dari satu indera.
b.    Penetapan tujuan itu penting untuk memulai dan mengarahkan kegiatan. Diskusi dalam keseluruhan kelas, diskusi dalam kelompok kecil, dan pertemuan-pertemuan individual digunakan untuk membantu siswa secara individual menetapkan tujuan.
c.         -    berusaha mencapai tujuan mencakup interaksi dengan orang-orang dan materi yang cocok untuk mencapai tujuan tersebut dan cocok untuk mencapai tujuan tersebut dan cocok dengan sifat-sifat siswa.
-       Mengenal dan mengorganosasi komponen secara berurutan adalah penting untuk mencapai tujuan
d.        -    latihan (praktek) yang dilakukan dalam kondisi-kondisi tertentu (yang baik) adalah penting untuk mencapai tujuan dan untuk meningkatkan pekerjaan dalam kebanyakan bidang studi.
-       Belajar yang sesuai dengan kecakapan sendiri, cara sendiri, dan sifat-sifat sendiri yang lain bermanfaat untuk pencapaian tujuan belajar/untuk belajar yang lain pada umumnya. Ada 2 untuk membantu siswa agar belajar sesuai dengan keadaan individual tiap siswa.
1.      Siswa dikelompokkan sesuai dengan tujuan yang mau dicapai dan berdasarkan sifat-sifat siswa tersebut.
2.      Materi, perlengkapan, ruang diatur secara fleksibel untuk memungkinkan belajar secara independen agar siswa dapat belajar sesuai dengan tempo dan caranya sendiri.
e.         Menilai pekerjaan sendiri adalah penting dalam mengembangkan keberdirisendirian dalam belajar dan dalam mencapai tujuan. Juga kalau penilaian itu dilakukan guru.
f.         Pengembangaan kecakapan yang mantap dan pengetahuan yang komprehensif menuntut pengalaman belajar yang produktif selama waktu yang cukup lama.
g.        Penerapan pada situasi-situasi baru konsep-konsep, prinsip-prinsip, keterampilan-keterampilan dan hasil-hasil belajar lain yang baru diperoleh akan meningkatkan kemantapan penguasaannya.

6.         Belajar dengan Jalan Mengamati dan Meniru (Observational Learning and Imitation)
Menurut Bandura dan Walters, tingkah laku baru dikuasai atau dipelajari mula-mula dengan mengamati dan meniru suatu model/contoh/teladan.
a.        Model yang ditiru.
Model yang diamati dan ditiru siswa dapat digolongkan menjadi :
v Kehidupan yang nyata
v Simbolik
v Representasional
b.      Pengaruh meniru
Menurut Bandura dan Walters, penguasaan tingkah laku atau response baru, pertama-tama adalah hasil dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam waktu yang bersamaan (kontiguitas) yang diamati. Kuat lemah response itu bergantung pada penguatan. Proses tersebut akan lebih jelas dengan memperhatikan 3 macam pengaruh yang berbeda dari pengamatan (observasi) dan peniruan.
v  Modeling effect
Dengan jalan mengamati dan meniru, siswa menghubungkan tingkah laku dari model dengan response yang baru bagi dirinya, response yang pertama kali dilakukannya.
v  Disinhibitory effect
Dengan mengamati dan meniru suatu model, seorang siswa dapat memperlemah atau memperkuat response-response terlarang yang telah dimiliki.
v  Eliciting effect
Dengan mengamati dan meniru suatu model, siswa menghubungkan tingkah laku dari model dengan response-response yang telah dimilikinya.
7.      Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Peniruan
·           Konsekeunsi dari response yang dilakukan (hadiah dan hukuman, pengaruh hukuman tidak mudah diramalkan seperti pengaruh hadiah)
·           Sifat-sifat siswa
Siswa yang suka meniru biasanya adalah yang :
-            Mempunyai rasa kurang harga diri
-            Kurang kemampuannya
-            Mereka mempunyai sifat-sifat yang sama seperti dalam model
-            Berada dalam suasana perasaan tertentu karena tekanan dari luar atau karena obat (drugs)
8.    Melupakan Response yang Ditiru
Bandura dan Walters lebih tertarik perhatiannya pada peniadaan tingkah laku yang tak baik daripada memperlemah tingkah laku yang baik. Beberapa cara untuk meniadakan response itu adalah :
·           Tidak memberi hadiah atas suatu response
·           Menghilangkan penguat yang positif
·           Menggunakan perangsang yang tak menyenangkan, misalnya hukuman
·           Belajar berkondisi

9.    Penerapannya di sekolah
·           Tingkah laku sosial dapat dipelajari dengan jalan mengamati dan meniru.
·           Tingkah laku psikomotor dapat juga dipelajari dengan jalan mengamati dan meniru.
·           Perkembangan keterampilan vokal, misalnya berbicara, menyanyi, dapat dibantu oleh adanya model

10.     Belajar yang Bermakna (Meaningful Learning)
a.         Tipe-tipe Belajar
Ada 2 dimensi dalam tipe-tipe belajar, yaitu :
-            Dimensi menerima  (reception learning) dan menemukan (dicovery learning)
-            Dimensi menghafal (rote learning) dan belajar bermakna (meaningful learning)
Kalau dua dimensi itu digabung, akan kita peroleh empat  macam belajar (Ausubel & Robinson) yaitu :
§   Meaningful reception
§   Rote reception
§   Meaningful discovery
§   Rote discovery
b.        Struktur dan Proses Internal
Menurut Ausubel dan Robinson, struktur kognitif itu bersifat piramidal. Proses mengintegrasikan informasi atau ide baru ke dalam struktur kognitif yang telah ada disebut subsumsi. Ada dua macam subsumsi, yaitu :
v  Subsumsi derivatif
Bila informasi atau ide baru adalah kasus khusus yang membantu atau menerangkan ide yang telah dipunyai, maka proses menghubungkan keduanya sehingga terjadi belajar, disebut subsumsi derivatif.
v  Subsumsi korelatif
Bila ide (informasi, konsep dan sebagainya) yang baru mengubah ide (informasi, konsep dan sebagainya) yang telah dipunyai, maka proses menghubungkan keduanya disebut subsumsi korelatif.
c.         Variabel-variabel di dalam belajar bermakna
Macam-macam variabel struktur kognitif adalah :
§   Pengetahuan yang telah dimiliki
Bagaimana bahan baru dapat dipelajari dengan baik, bergantung pada apa yang telah diketahui.
§   Diskriminabilitas
Konsep-konsep baru yang dapat dibedakan dengan jelas dengan apa yang telah dipelajari, mudah dipelajari dan dikuasai.
§   Kemantapan dan kejelasan
Konsep-konsep yang mantap dan jelas ada di dalam strujtur kognitif memudahkan belajar dan retensi. Untuk memudahkan kemantapan dan kejelasan konsep itu perlu latihan. Ada dua macam latihan : distributed practice dan massed practice.
d.        Motivasi dan belajar bermakna
Morif keberhasilan terdiri dari 3 komponen :
·           Dorongan kognitif
Termasuk dalam dorongan kognitif adalah kebutuhan untuk mengetahui, untuk mengerti dan untuk memecahkan masalah. Dorongan kognitif timbul di dalam proses interaksi antara siswa dengan tugas/masalah.
·           Harga diri
Ada siswa yang tekun belajar melaksanakan tugas-tugas bukan terutama untuk memperoleh pengetahuan atau kecakapan, meainkan untuk memperoleh status dan harga diri.
·           Kebutuhan berafiliasi
Kebutuhan berafiliasi sukar dipisahkan dari harga diri. Ada siswa yang berusaha menguasai bahan pelajaran atau belajar dengan giat untuk memperoleh pembenaran/penerimaan dari teman-temannya atau orang lain yang dapat memberikan status kepadanya.
e.         Penerapannya di sekolah
               Bagi seorang (calon) guru dan pembimbing perlu sekali mendalami teori-teori belajar ini agar dapat menerapkan dalam tugasnya waktu mengadakan interaksi belajar mengajar/membimbing.
               Juga guru diharapkan harus dapat menciptakan kondisi-kondisi dimana memungkinkan siswa dapat belajar dengan efektif dan dapat mengembangkan daya eksplorasinya.

*        MENGAJAR
A.      PENGERTIAN
1.         Definisi yang lama : mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman-pengalaman dan kecakapan kepada anak didik kita. Atau usaha mewariskan kebudayaan masyarakat pada generasi berikut sebagai generasi penerus.
2.         Definisi dari DeQueliy dan Gazali : mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat.
3.         Definisi yang modern di negara-negara yang sudah maju : mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar. Definisi ini menunjukkan bahwa yang aktif adalah siswa, yang mengalami proses belajar. Sedangkan guru hanya membimbing, menunjukkan jalan dengan memperhitungkan kepribadian siswa. Kesempatan untuk berbuat dan aktif berpikir lebih banyak diberikan kepada siswa, daripada teori yang lain. Hal ini terjadi di sekolah-sekolah.
a.         Sistem Maria Montessori (Italia 1879-1952)
Pendidik harus menelliti dan memperhitungkan “masa peka” setiap anak/siswa sehingga dapat memberikan pendidikan yang tepat sesuai dengan fungsi kewajiban anak/siswa  yang sedang berkembang dengan hebat pada saat itu.
4.         Sistem Dalton, yang diciptakan oleh Miss Hellen Parkhurst (USA 1904) yang menekankan hasil belajar pada “tempo perkembangan” anak/siswa. Anak/siswa memiliki kemampuan, kecakapan dan tempo perkembangan sendiri-sendiri.
5.         Kilpatrik, menunjukkan definisi mengajar yang jelas tegas, dengan dasar pemikiran pada gambaran perjuangan hidup umat manusia. Definisi Kilpatrik tersebut ialah dengan menggunakan metode-metode “problem solving” anak, siswa dapat mengatasi kesulitan-kesulitan di dalam hidupnya. Selama siswa bersekolah, sejak usia muda harus sudah dilatih memecahkan kesulitan yang dihadapi dalam hidupnya, sehingga kecakapan guru mengajrialah : bagaimana usaha guru menempatkan anak/siswa untuk menghadapi kesulitan dan berusaha memecahkannya atau mencari jalan keluar. Dalam hal ini seni mengajar adalah mencari keadaan atau situasi yang mengandung problem, kemudian siswa harus menghadapi masalah itu untuk dapat memecahkan atau mengatasinya. Jelas di sini tugas guru lebih berat dan sulit daripada guru yang malas-malasan, yang menyeluruh siswa mencatat dan menghafalkan bahan pelajaran, hingga siswa tidak berpikir dan tidak berbuat sesuatu.
Metode mengajar “problem solving” ini digunakan di negara-negara yang telah maju. Hasilnya, pada siswa ditanamkan tingkat-tingkat berpikir sebagai berikut :
·           Melihat adanya beberapa problem
·           Mencari kemungkinan atau alternatif-alternatif
·           Mempertimbangkan alternatif-alternatif
·           Menentukan salah satu alternatif yang baik
·           Melaksanakan alternatif yang sudah ditentukan
6.         Alvin W. Howard, memberikan definisi mengajar yang lebih lengkap. Pendapat Alvin “Mengajar adalah suatu aktivitas untuk mencoba menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan skill, attitude, ideals (cita-cita), appreciations (penghargaan) dan knowledge”.
Dalam pengertian ini guru harus berusaha membawa perubahan tingkah laku yang baik atau berkecenderungan langsung untuk mengubah tingkah laku siswanya. Itu suatu bukti bahwa guru harus memutuskan membuat atau merumuskan tujuan.
7.         A. Morrison D.Mc. Intyre, memberikan definisi mengajar adalah aktivitas personal yang unik. Dalam mengajar dapat membuat kesimpulan-kesimpulan umum yang tidak berguna, keberhasilan dan kejatuhannya samar-samar, dan sukar diketahui juga berlangsungnya teknik belajar yang tidak tepat untuk dijelaskan. Kemungkinan lain yang dapat diamati ialah memberikan model teori dan teknik asesmen yang sesuai dan banyak aspek mengajar yang dilukiskan dengan cara yang dibimbing oleh hal-hal yang praktis, pribadi guru banyak berbicara.
8.         John R. Pancella, pendapatnya tentang mengajar adalah sebagai berikut : Mengajar dapat dilukiskan sebagai membuat keputusan (decision making) dalam interaksi, dan hasil dari keputusan guru adalah jawaban siswa atau sekelompok siswa, kepada siapa guru berinteraksi.
Tanggung jawab guru meliputi :
·           Memberikan bantuan kepada siswa dengan menceritakan sesuatu yang baik, yang dapat menjamin kehidupannya, itu adalah ide yang bagus.
·           Memberikan jawaban langsung pada pertanyaan yang diminta oleh siswa.
·           Memberikan kesempatan untuk berpendapat.
·           Memberikan evaluasi.
·           Memberi kesempatan menghubungkan dengan pengalamannya sendiri.
9.         Bagi Mursell, mengajarkan digambarkan sebagai “mengorganisasikan belajar”, sehingga dengan mengorganisasikan itu, belajar menjadi berarti atau bermakna bagi siswa.
Kapan belajar yang berarti ? belajar adalah berarti dalam keseimbangan dengan keadaan siswa, sehingga tugas pelajar adalah memahami hubungan pengetahuan itu sebagai kesatuan.
Dalam hai ini guru hanya organisator. Organisator yang baik mempunyai ciri-ciri seperti berikut :
a.         Bukan penguasa yang tak terbatas, ia tidak membuat keputusan sendiri. Lebih berhasil bila melaksanakan demokrasi.
b.        Seorang organisator yang baik, juga tidak berbuat atau bertingkah laku sederhana seperti anggota lain dalam kelompok itu, tanpa hak-hak istimewa ia memiliki kekuasaan khusus dan oeraturan yang khusus pula.
c.         Membantu anggota kelompok maupun grup itu sendiri untuk menentukan, merumuskan dan menjelaskan tujuan dari apa yang dipelajari.
d.        Mewakilkan dan membagi tanggung jawab seluas mungkin.
e.         Harus berani dan berinisiatif yang berguna. Organisator yang baik memandang grup dengan kerjanya sebagai potensi yang membangun.
f.         Selalu membangun kekuatan, jangan menekankan pada kelemahannya. Dia mempunyai pendapat yang konstan bahwa setiap orang mampu menyelesaikan pekerjaan, mampu menyumbangkan pikiran, walaupun kadang-kadang berbeda dengan yang diharapkan.
g.        Memelihara kritik pada dirinya dan mengevaluasi diri sendiri di dalam kelompok, dimana mereka memiliki keberhasilan maupun kejatuhan.
h.        Memelihara pengawasan atau kontrol, karena tanpa pengawasan “kelompok” tidak dapat berfungsi dengan baik.
10.     Waini Rasyidin, mengajar yang dipentingkan ialah adanya partisipasi guru dan siswa satu sama lian. Guru merupakan koordinator, yang melakukan aktivitas dalam interaksi sedemikian rupa, sehingga siswa belajar seperti yang kita harapkan. Guru hanya menyusun dan mengatur situasi belajar dan bukan menentukan proses belajar.



v  Pengalaman Belajar yang Berkaitan dengan Teori Belajar Mengajar
Menurut pengalaman yang saya peroleh selama bersekolah, yaitu sesuai dengan definisi kilpatrik yaitu menggunakan metode problem solving. Dimana dalam metode tersebut guru memberikan suatu permasalahan untuk dipecahkan oleh siswa-siswanya. Dengan begitu guru melatih siswa untuk memecahkan kesulitan yang dihadapi dalam hidupnya. Dari pengalaman tersebut, saya menjadi lebih suka untuk memecahkan masalah dengan bertahap. Seperti contoh, dalam menyelesaikan soal-soal matematika, fisika, dan kimia. Namun yang paling berkesan adalah saat saya SMA, guru kimia saya selalu memberikan suatu permasalahan-permasalahan baru yang memacu saya untuk dapat memecahkan masalah/soal tersebut dengan bertahap dan sesuai dengan aturan dalam penyelesaiannya.











§  Sumber : Bahan Ajar Mata Kuliah Strategi Pembelajaran PGSD UKSW 2012

8 komentar:

  1. selamat pagi..
    menurut saya pemaparan tentang teori belajar dan mengajar Anda sudah baik dan lengkap..
    Di atas, telah Anda sampaikan bahwa saat bersekolah guru Anda menggunakan metode problem solving. Tolong beri salah satu contoh masalah yang diberikan oleh guru Anda pada saat pembelajaran !
    Dan apakah ada metode lain yang digunakan oleh guru Anda ? apabila ada tolong sebutkan metode apa saja itu ?
    Terimakasih..

    BalasHapus
  2. Masalah yang pernah di berikan guru saya dulu, seperti contohnya beliau memberikan suatu permasalahan yang harus dipecahkan oleh siswa. Guru saya pernah memberikan suatu permasalahan/soal yang kiranya belum pernah dibahas/disinggung. Saat itu siswa diminta untuk mencoba memecahkan masalah tersebut. Selain itu dalam dalam memecahkan masalah tersebut saya dituntut untuk mengikkuti alur yang benar sehingga dalam pengerjaannya saya dapat menyelesaikannya dengan runtut dan ada buktinya.
    Selain problem solving, dulu guru saya juga pernah menerapkan inkuiry dalam proses pembelajaran. Itu pada mapel biologi. guru mengajak untuk melakukan percobaan tentang proses adaptasi dan mempertahankan diri. Siswa diminta untuk mengidentifikasi dan mencari jawaban sendiri atas permasalahan pada percobaan tersebut.
    Itu jawaban saya dari pertanyaan Anda, maaf jika jawaban saya masih kurang berkenan. Terimakasih Anda telah mengunjungi dan memberikan komentar pada postingan saya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas jawabannya
      Apakah Anda bisa memberikan contoh materi yang diberikan oleh guru Anda dimana materi tersebut diajarkan kepada siswa dengan metode problem solving ?

      Hapus
  3. umm,,,, guru anda memberikan metode problem solving,,
    bagaimana cara guru anda menerapkan metode tersebut,,?
    bagaimana menurut anda jika metode tersebut digunakan di SD bagaimana cara guru mengimplementasikannya?
    :)

    BalasHapus
  4. Cara guru saya dalam menerapkannya dengan memberikan suatu permasalahan/soal yang kiranya belum pernah dibahas/disinggung. Saat itu siswa diminta untuk mencoba memecahkan masalah tersebut. Selain itu dalam dalam memecahkan masalah tersebut saya dituntut untuk mengikkuti alur yang benar sehingga dalam pengerjaannya saya dapat menyelesaikannya dengan runtut dan ada buktinya.
    Menurut saya, problem solving dapat diterapkan di SD pada tingkat kelas tinggi. Namun dalam penerapannya harus dipermak agar siswa tidak merasa berat dalam penerimaan sistem ini. Mungkin dalam penerapannya siswa dibimbing dalam pemecahan masalahnya.
    Itu jawaban saya dari pertanyaan Anda, maaf jika jawaban saya masih kurang berkenan. Terimakasih Anda telah mengunjungi dan memberikan komentar pada postingan saya :)

    BalasHapus
  5. apakah metode pembelajaran problem solving sudah efektif untuk anak SD?
    jika di kelas, Anda menemukan seorang anak yang belum bisa menyelesaikan tugas yang diberikan dengan sempurna pdahal Anda menggunakan metode problem soving. Bagaimana cara mengatasinya?

    BalasHapus
  6. Dari posting komentar yang terdahulu, disebutkan bahwa problem solving merupakan metode yang cukup efektif untuk membuat siswa lebih aktif. Saya setuju dengan pendapat tersebut. Diswa diberi permasalahan dan disuruh untuk memecahkan sendiri sesuai petunjuk yang ada. Dengan begitu, siswa akan semakin mandiri untuk memecahkan masalah sendiri dan mencari tahu jawaban dengan caranya sendiri. Problem solving cocok digunakan untuk kelas tinggi, sedangkan untuk kelas rendah, problem solving belum efektif karena anak kelas rendah masih membutuhkan bantuan guru untuk memecahkan masalah.

    BalasHapus
  7. menurut anda apakah motode problem solving cocok di terapkan untuk sekolah dasar?

    BalasHapus