Total Tayangan Laman

Senin, 16 April 2012

Filsafat Jawa


Di jaman modern saat ini, perkembangan kebudayaan Jawa semakin hari semakin luntur. Begitu juga mengenai pemahaman tentang filsafat Jawa mulai tidak dihiraukan. Bahkan hanya sedikit orang yang tertarik tentang adanya filsafat Jawa. Kehidupan masyarakat makin hari makin terpengaruh oleh budaya Barat, sehingga membuat mereka mengabaikan filsafat Jawa. Filsafat Jawa sejatinya bersifat universal sehingga tidak hanya dipeuntukkan untuk masyarakat Jawa saja, namun dapat diperuntukkan kepada siapa saja yang ingin mempelajarinya. Berikut beberapa filsafat Jawa yang dapat kita pahami :
v  Memayu hayuning bawana (melindungi bagi kehidupan dunia).
v  Sukeng tyas yen den hita (suka/bersedia menerima nasihat, kritik, tegoran).
v  Jer basuki mawa beya (keberhasilan seseorang diperoleh dengan pengorbanan).
v  Ajining dhiri dumunung ing kedhaling lathi (nilai diri seseorang terletak pada gerak lidahnya).
v  Ajining sarira dumunung ing busana (nilai badaniah seseorang terletak pada pakaiannya).
v  Amemangun karyenak tyasing sesama (membuat enaknya perasaan orang lain).
v  Kridhaning ati ora bisa mbedhah kuthaning pasthi (Gejolak jiwa tidak bisa merubah kepatian).
v  Budi dayane manungsa ora bisa ngungkuli garise Kang Kuwasa (Budi daya manusia tidak bisa mengatasi takdir Yang Maha Kuasa).
v  Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti (kemarahan dan kebencian akan terhapus/hilang oleh sikap lemah lembut).
v  Tan ngendhak gunaning janma (tidak merendahkan kepandaian manusia).

SIAPA ORANG JAWA ITU ?
Menurut aspek antropologis, orang jawa memang sudah lama ada. Orang jawa selalu mengatakan bahwa mereka adalah keturunan leluhur Jawa. Leluhur Jawa adalah orang yang bebadra (mendirikan) tanah Jawa. Walaupun sampai saat ini tidak jelas siapa yang memberi nama (pulau) Jawa. Dalam Serat Pramayoga karya R. Ng. Rannggawarsita yang bersumber dari Serat Jitapsara karya Begawan Palassara, diterangkan bahwa nenek moyang orang Jawa adalah hasil sinkretis Hindu Jawa dan Islam Jawa. Perpaduan keyakinan tersebut telah melahirkan berbagai mitos kejawaan. Dalam karya tersebut diceritakan tentang kisah Ajisaka (oleh orang Jawa) dijadikan tonggak (cikal bakal) orang Jawa. Mitos ini digubah dalam Serat Ajisaka (anonim), yang selalu dinyatakan sebelum tokoh ini datang ke Jawa (ngajawa), pulau Jawa telah dihuni dan dipimpin oleh raja raksasa. Ajisaka adalah orang yang menciptakan Dentawiyanjana (aksara Jawa).
Namun jika menengok kisah dalam Tantu Panggelaran ternyata nenek moyang orang Jawa adalah dewa, yakni batara Siwa. Batara Siwa telah menemukan sebuah pulau yang banyak tumbuh tanaman Jawawut (mirip rumput teki), lalu diubah namanya menjadi Jawa. Perubahan nama dari Jawawut menjadi Jawa, tampaknya memang kurang pasti. Namun, jika dilihat dari aspek etimologi rakyat, jawawut kemungkinan berasal dari kata jawa+wut (awut-awutan), artinya keadaan yang belum tertata. Jika ditelusuri lagi, naama Jawa mungkin dari kata ja (lahir) dan wa (watak). Artinya, kelahiran watak baru (peradaban). Jadi, Jawa berarti kelahiran atau kebangkitan peradaban, dari kebodohan ke arah kemajuan.
Nama Jawa tersebut, jika ditinjau dari aspek historis, sedikit berbeda. Waktu itu ada seorang Yunani bernama Claudius Ptolomeus pernah menulis berita tentang Jawa dengan nama Jabadiu. Jabadiu artinya pulau yang subur dan banyak mengandung emas. Tokoh ini kemudian mengubah Jabadiu menjadi Jawa Dwipa, artinya pulau Jawa. Sumber lain, pedagang Venesia yang bernama Marcopolo mengunjungi pulau Hindia, dia menyebut nama Giava atau Jawa. Seorang pengembara Arab bernama Ibnu Batutah menyebut nama pulau subur itu dengan sebutan Jawah. Nama tersebut dalam bahasa krama berarti hujan.
Dari aspek mitologi maupun histiris, dapat disimpulkan bahwa nenek moyang Jawa masih menjadi teka-teki. Karena orang Jawa sulit membayangkan siapa nenek moyangnya, mereka gemar menciptakan bayangan-bayangan mitologis. Yang pentinng figur bayangan tersebut mewakili komunitasnya dan menuju pada titik kabaikan. Orang Jawa banyak yang menganggap Semar dalam tokkoh pewayangan sebagai figur bayangan nenek moyang orang Jawa. Karena nenek moyangnya berasal dari seorang dewa yang menyamar sebagai rakyat kecil, orang Jawa merasa dirinya sebagai seperti Semar. Itu adalah ulasan mengenai sejarah orang Jawa yang sampai sekarang masih belum ada titik terangnya dan masih dipermasalahkan.

APA FILSAFAT JAWA ITU ?
Di Indonesia tidak memiliki filsafat sendiri atau asli Indonesia. Yang ada dan terus berkembang adalah filsafat Timur dan Barat. Sehingga di Indonesia pelajaran yang lebih ditekankan kepada pelajaran filsafat Barat. Di dalam kehidupan rohani, yang menjadi dasar dan memberi isi kebudayaan Jawa, benar-benar didapatkan usaha untuk mencari dasar-awal segala sesuatu, renungan tentang apa yang terdapat di belakang segala wujud lahir dan pencarian sebab terdalam dari padanya, yaitu suatu perincian tentang :
a.       Arti hidup manusia, asal mula dan akhir kehidupan (penulis : “Sangkan paraning dumadi”)
b.      Hubungan manusia-Tuhan-dunia.
Pengetahuan tentang apa yang hidup dalam bangsa Jawa, tidak hanya di antara mereka yang dianggap sebagai pengemban kebudayaan, melainkan bahkan di kalangan rakyat biasa, sudahlah cukup untuk meyakinkan kita tentang kecintaan mereka terhadap renungan filsafat. Berikut beberapa contoh terutama dari Kesusastraan Suluk Jawa Modern dan dari kesusastraan Jawa Kuna :
a.       Sebagian ungkapan ontologi, kita dapatkan dalam Serat Suluk yang membicarakan sifat alam semesta, berada di antara tidak ada-mutlak dan ada-mutlak-nyata, yaitu Tuhan.
b.      Dalam berbagai bentuk dan cara kita dapatkan renungan-renungan tentang hubungan antara Tuhan dan manusia, antara wujud mutlak, dan wujud Ilapi, yang selalu dilatarbelakangi oleh pengalaman ekstase kesatuan abdi dan Tuhan (penulis: Manunggaling Kawula Gusti), namun senantiasa merupakan usaha mencari keterangan pengertiannya dan untuk mendalami makna dari seluruh yang ada.
c.       Dari kesusastraan Jawa Kuna disebutkan Kekawin arjuna Wiwaha, dimana Arjuna yang sedang bertapa ditemui oleh Sang Siwa yang memperlihatkan dirinya dengan sifat-sifat ilahi.
Dalam ajaran-ajaran filsafat Jawa mengenal konsep-konsep umum yakni : Pertama, konsep pantheistik (kasatuan) yaitu manusia dan jagad raya merupakan percikan zat Ilahi. Kedua, konsep tentang manusi. Manusia terdiri dari dua segi, lahiriah dan batiniah. Ketiga, konsep mengenai perkembangan. Keempat, konsep sikap hidup, yaitu (1) distansi, manusia mengambil jarak dengan dunia sekitar baik aspek materiil maupun spirituil, (2) konsentrasi, ditempuh dengan tapa brata (mengekang hawa nafsu), dan representasi, upaya mencapai keselarasan, memahayuning-bawana.
Perwujudan konsepsi demikian akan terlihat dalam berbagai jenis filsafat Jawa yakni : Pertama, filsafat metafisika, yakni bahwa Tuhan adalah merupakan sangkan pararing dumadi. Kedua, epistemologi, yaitu proses memperoleh pengetahuan dengan jalan mencapai kesadaran cipta, rasa, dan karsa (hening), kesadaran panca indera, kesadaran pribadi, dan kesadaran Ilahi. Ketiga, falsafah aksiologi, terkait dengan nilai etik dan estetis. Keempat, falsafah anthropologia yaitu pola pikir Jaawa yang berkisah tentang persoalan manusia dinamakan. Kelima, falsafah ontologia dan metafisika (filsafat tentang ada).
Namun untuk mempermudah penuturan, ketiga segi filsafat itu (metafisika, epistemologi, axiologi) akan dibahas lebih jelas lagi.
a.      Metafisika
Ungkapan tentang Ada (Ada semesta, Alam semesta)-Tuhan-Manusia, dapat dianggap sebagai hasil pemikiran ataupun sebagai hasil pengalaman atau penghayatan manusia. Karena hasil ini dinyatakan berupa penuturan dengan kata (verbal) dan tersusun secara sistematis, maka dapat disebut Filsafat dalam arti sempit. Ciri-ciri dasarnya adalah :
1)        Tuhan adalah Ada Semesta atau Ada Mutlak.
2)        Alam Semesta merupakan pengejawanrahan Tuhan.
3)        Alam Semesta dan Manusia merupakan suatu kesatuan, yang biasanya disebut kesatuan Mikrokosmos.
Pemikiran filsafat bertitik tolak dari eksistensi manusia dan alam-dunia sebagai wujud nyata yang dapat ditangkap dengan panca indera. Bukan dasar awal yang dicari dan dipertanyakan seperti yang terjadi pada filsuf-filsuf Yunani, melainkan dari mana dan kemana semua wujud ini atau dengan istilah sangkan paran :
1)        Sangkan paraning dumadi : awal-akhir alam semesta.
2)        Sangkan paraning manungsa : awal-akhir manusia.
3)        Dumadining manungsa : Penciptaan manusia.
Pencarian manusia akan berakhir dengan wikan, weruh atau mengerti Sangkan Paran. Filsafat Jawa sepanjang masa berkesimpulan bahwa Tuhan merupakan Sangkan Paraning Dumadi dan Manungsa :
1)        Awal berarti berasal dari Tuhan
2)        Akhir berarti kembali kepada Tuhan
Usaha manusia untuk kembali pada asalnya atau Tuhan dilakukan baik dengan jalan jasmani maupun rohani, atau jalan lahir dan jalan batin. Jalan batin ini umumnya didapatkan pula pada kehidupan budaya bangsa-bangsa lain dan disebut mistik atau mistisisme. Perincian penggambaran Tuhan, Manusia dan Alam semesta :
1.   Tuhan
a)         Tuhan tidak dapat dibayangkan seperti apa pun, dekat tiada bersentuhan, jauh tidak ada perbatasan.
b)        Tuhan disebut dengan bermacam-macam nama yang umumnya menggambarkan sifatnya, seperti Sang Hyang Taya (tiada), Wenang, Tunggal. (Prof. Dr. R. M. Ng.poerbatjaraka : Kepustakaan Jawa, halaman 68).
2.        Manusia : unsur-unsur yang menjadi sarana “kembali”.
a)         Jasmani
·           Kakang kawah, adhi ari-ari : air ketuban dan plasenta.
·           Lobang sembilan.
·           Panca indera.
b)        Rohani : sedulur papat kalimo pancer : empat saudara dan penuntun sebagai saudara kelima.
·           Nafsu empat : Mutmainah, Amarah, Lauwamah dan Supiah.
·           Aku (Ego) dengan kodrat kemampuan cipta rasa karsa.
·           Pribadi (Self) atau Ingsun, Suksma Sejati, sebagai penuntun Aku.
·           Suksma Sejati merupakan “percikan” Tuhan atau Suksma Kawekas.
Kembali kepada Tuhan juga disebut : “pulang kepada asal” : mulih-mula-mulanira.
3.        Alam semesta (Dunia)
Penuturan tentang penciptaan dunia (Kosmogoni) dan gambaran dunia (Kosmologi) berbentuk beraneka ragam dengan unsur-unsur budaya hidu, Budha dan Islam. Yang sangat menonjol adalah Susunan Hirarki (hierarchical order) di dalamnya.
b.      Epistemologi
Epistemologi mempelajari proses untuk memperoleh pengetahuan (knowledge). Telah disebut dua jalan atau metoda untuk memperoleh pengetahuan dengan mempergunakan kodrat kemampuan manusia :
1)        Penalaran, akal, rasio, abstraksi (Aristoteles).
2)        Intuisi, rasajati (Plato, Bergson).
Dalam Filsafat Jawa pada hakekatnya terdapat pula jalan serupa, dengan tahap-tahap penggunaan cipta-rasa-karsa, melalui tingkat kesadaran :
1)        Kesadaran panca inderawi atau Aku (Ego consciousness).
2)        Kesadaran hening : manunggaal dalam cipta-rasa-karsa.
3)        Kesadaran pribadi (Ingsun, Suksma Sejati) : manunggal Aku-Pribadi (Self consciousness).
4)        Kesadaran ilahi : manunggal Aku-Pribadi-Suksma Kawekas.
Pada tingkat mutakhir terjadi manunggal Subyek-Obyek, sehinngga diperoleh pengetahuan mutlak atau kawicaksanan, kawruh sangkan paran dalam mencapai kesempurnaan. Ketiga kemampuan Cipta-Rasa-Karsa ini dalam kehidupan sehari-hari diusahakan dapat bersatu untuk diwujudkan dalam kata dan karya, ucapan dan perbuatan. Penggunaan kemampuan yang dihayati lebih mendalam dari pada Cipta, yaitu Rasa dan Rasajati, digambarkan sangat baik dalam budaya kita, khususnya Jawa. Dalam pergaulan dipergunakan dua atau tiga tingkat bahasa, ngoko untuk sesama, Krama dan Krama Inggil untuk menyapa mereka yang dianggap lebih tinggi, baik dalam usia maupun fungsi masyarakat.
c.       Axiologi
v  Estetika : Keindahan
a.    Jaman Jawa-Hindu : Keindahan selalu dianggap sebagai pengejawantahan dari yang Mutlak. Maka semua keindahan adalah satu (Zoetmulder).
b.    Jaman Jawa-Islam : Dalam kesusasteraan Suluk diperpadat seluruh 20 sifat dan 99 nama indah (asma’ul husnah) Allah menjadi 4 sifat, dimana keindahan dimasukkan :
1)   Agung           : Jalal
2)   Elok               : Jamal (Indah)
3)   Wisesa           : Kahar (Kuasa)
4)   Sempurna      : Kamal
v  Etika : Kesusilaan
Dalam etika dipermasalahkan adannya baik-buruknya yang mempengaruhi peri laku manusia dan yang juga berhubungan dengan adanya Tuhan. Dalam Filsafat Jawa baik-buruk dianggap tidak terlepas dari eksistensi manusia yang terjelma di dalam pelbagai keinginan dan dikaitkan dengan empat nafsu : Mutmainah, Amarah, Lawwamah dan Supiah. Keinginan baik (Mutmainah) akan selalu berhadapan dengan keinginan buruk (Amarah-Lawwamah-Supiah) untuk menjelmakan peri laku manusia. Hal ini digambarkan dalam simbolik wayang dengan watak-watak pendeta, pendita-ratu, satria, diyu (yaksa), cendala. Tingkat kedewasaan dan watak manusia tidak hanya dapat diperoleh dengan usaha sewaktu hidupnya, melainkan juga diperoleh sejak lahirnya.

HUBUNGAN FILSAFAT JAWA DENGAN KEBUDAYAAN DAN KEHIDUPAN ORANG JAWA
Budaya Jawa atau kebudayaan Jawa dapat didefinisikan sebagai perangkat simbol-simbol yang digunakan oleh orang Jawa untuk melestarikan kehidupannya, yang diperoleh melalui proses belajar dalam kehidupan mereka sebagai warga masyarakat Jawa. Kebudayaan Jawa di sini tentu saja mencakup di dalamnya filsafat atau falsafah Jawa, yaitu perangkat simbol yang berupa pandangan-pandangan orang Jawa menge-nai dunia dan kehidupan di dalamnya, nilai-nilai tentang baik dan buruk yang mereka anut, norma-norma serta aturan-aturan untuk berhubungan dengan alam ghaib, dengan sesama manusia, dan dengan lingkungan alamnya.
Filsafat Jawa dengan demikian merupakan salah satu unsur budaya Jawa dalam wujud utama berupa gagasan-gagasan atau pengetahuan. Sebagai gagasan, sistem filsafat Jawa ini tentu harus dapat mewujud dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak, maka keberadaannya tidak akan diketahui. Kebudayaan mempunyai fungsi yang besar bagi manusia dan masyarkat, berbagai macam kekuatan harus dihadapi seperti kekuatan alam dan kekuatan lain. Kebudayaan memberikan aturan bagi manusia dalam mengolah lingkungan dengan teknologi hasil ciptaannya. Oleh karena itu, dengan adanya filsafat, kita dapat mengetahui tentang hasil karya manusia yang akan menimbulkan teknologi yang mempunyai kegunaan utama dalam melindungi manusia terhadap alam lingkungannya.
Banyak budaya Jawa yang mempengaruhi filsafat Jawa, seperti seni Jawa dan gaya hidup orang Jawa. Kebudayaan Jawa telah mengajarkan kepada kita untuk selalu bersyukur dan menjaga keharmonisan dengan alam. Memaknai dan memberi warna istimewa terhadap hasil yang telah diperoleh. Memanfaatkannya untuk kepentingan orang lain dan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri maupun keluarga adalah presentasi kebudayaan Jawa yang senantiasa diselaraskan dengan alam dan kaya makna dalam ranah kehidupan sosial.
Upacara wiwitan ini adalah hasil implementasi dari tiga fase perkembangan kebudayaan Jawa, mulai dari fase mistis, mistis-religius dan fase rasional-religion. Upacara wiwitan ini tidak hanya menjadi seremonia sewaktu akan menanam atau memanen padi, tetapi juga sebagai salah satu perekat tali persaudaraan antara warga desa, khusunya kaum petani. Lebih-lebih upacara ini merupakan khazanah budaya yang memiliki dimensi sosial sangat tinggi. Karena di dalamnya menanamkan rasa persaudaraan dan solidaritas atar sesama manusia. Untuk lebih memeriahkan upacara ini warga terkadang juga menggelar kesenian gejon lesung dengan tembang-tembang Jawa yang berisi tentang kemakmuran para petani. Di samping sebagai wujud syukur tradisi wiwitan ini digelar sebagai bentuk untuk melestarikan ritual budaya yang hampir punah dikalangan petani Jawa.
Selain itu seni wayang juga merupakan kebudayaan Jawa yang dapat dihubungkan dengan filsafat Jawa. Wayang sebagai pertunjukan merupakan ungkapan dan peragaan pengalaman religius yang merangkum bahwa wayang dan pewayangan mengandung filsafat yang dalam dan dapat memberi peluang untuk melakukan filsafati dan mistis sekaligus. Pada umumnya penggemar pewayangan beranggapan bahwa tidak ada kebenaran dan kesalahan yang mutlak. Sikap toleransi mereka terungkap dalam kata seloka yang cukup populer yaitu aja dumeh, jangan mentang­mentang dan aja nggugu benere dhewe, jangan menuruti kebenaran sendiri. Itu salah satu contoh kebudayaan Jawa yang mengandung filsafat Jawa.
Falsafah Ajaran Hidup Jawa memiliki tiga aras dasar utama. Yaitu: aras sadar ber-Tuhan, aras kesadaran semesta dan aras keberadaban manusia. Aras keberadaban manusia implementasinya dalam ujud budi pekerti luhur. Maka di dalam Falsafah Ajaran Hidup Jawa ada ajaran keutamaan hidup yang diistilahkan dalam bahasa Jawa sebagai piwulang (wewarah) kautaman.
Ada dua hal yang andil dalam pembentukan kepribadian orang Jawa sampai sekarang, pertama: masyarakat Jawa adalah warisan dari sistem pemerintahan kerajaan. Kedua, masyarakat Jawa pernah dijajah oleh bangsa kolonial dalam waktu yang panjang. dua hal ini menyebabkan masyarakat jawa mengalami stratifikasi sosial. Misalnya wong gedhe dan wong cilik, priyayi dan wong lumrah dan sebagainya. Pembagian strata ini dilakukan sendiri oleh Masyarakat Jawa tanpa ada aturan-aturan yang menjadi pedoman. Akibat stratifikasi sosial komunikasi sosial harus mempertimbangkan berbagai aturan, oleh karena itu muncullah norma-norma yang mengatur hubungan antar strata masyarakat.



DAFTAR PUSTAKA
Ciptoprawiro, Abdullah. 1986. Filsafat Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Endraswara, Suwardi. 2006. Filsafat Hidup Jawa. Yogyakarta: Cakrawala.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar